what I post is what I feel :)
Jika saat itu aku punya keberanian, cinta kita pasti tak akan berakhir seperti ini. Jika saat itu kamu gigih, kisah kita pasti tak akan menjadi begini.
Cinta pertama telah menorehkan luka di hatiku. Menyisakan malam-malam penuh derai air mata, mengingatkanku selalu kepadamu, pada cinta kita….
Kita sering tak mengerti apakah yang dinamakan cinta. Dulu aku selalu berpikir cinta bisa melampaui segalanya. Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata ada kekuatan lain yang disebut takdir…. Kita tak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya dan hanya bisa menerimanya.
Baru ngerasain ditinggal sama nyokap bener-bener gak enak :(
biasanya tiap ada kejadian apa-apa tuh gue langsung cerita ke nyokap kecuali soal cinta.. tapi sekarang tiap pulang kerja rumah sepi banget.
gak ada yang bisa diajak cerita, masa gue mau cerita sama abang2 gue? gak mungkin banget kan? sama ade gue? hhh apalagi -___-
kalo gue sakit perut pasti dia sibuk parutin biang kunyit gitu, nyuapin makan, aaaah super deh pokoknya! Rada lega pas beliau nelfon dr tanah suci dan dia bilang kalo mamah sama bapak sehat banget disini, Maha Suci KuasaNYA ;)
mah neng cuma kangen sama mamah, cepet pulang ya mah, semoga mamah sama bapak disana baik2 aja ya.. bukan berarti aku gak kangen sama bapak, kangen banget juga sama bapak :) miss u and love u smoochess :*
Perempuan tersebut seorang Mahasiswi Untirta Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen , foto ini saya ambil ketika dya sedang berada di Bandung bersama seorang lelaki bernama Lulu dan Sony *eh
HAHAHHAHAHAHHAHAHHA
nb : liat mukanya dya seperti apa :D
astagaaaaa boriiiikkkkk wakakakak mupeng banget
(Source: ocehangueee)
Menurut gue, Cina itu menarik - anisa pada cina dalam cin(T)a :D
Setiap mendengar lagu Mocca, aku selalu mengingatmu. Entah mengapa setiap mendengar suara Arina hilir-mudik ditelingaku, aku selalu mengingat hadirmu. Kamu yang sebenarnya tak pernah tersentuh, kamu yang sebenarnya tak pernah kutemui.
Sapa lembutmu mengalir maya dalam jejaring sosial itu. Aku tidak mengerti, dengan hal yang sederhana, kau bisa membuatku begitu menyukai kehadiranmu. Aku suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu sekedar untuk bercerita. Bercerita tentang aku dan kamu yang mungkin tidak akan pernah menjadi KITA.
Bagaimana mungkin dengan cara sederhana itu kau pernah membuatku jatuh cinta? Cinta yang saat ini kuanggap hanya kenangan yang mungkin akan kau lupakan dan aku lupakan. Anggaplah tidak pernah ada cinta diantara aku dan kamu, hanya perasaan suka tak berdasar logika, hanya perasaan tertarik pada perkenalan pertama.
Aku tahu, kau sudah memiliki seseorang, tentu saja lebih dari teman. Aku juga menyukai wanita itu. Sapa lembutnya tak kalah menghangatkan darimu. Aku suka cara sederhana yang dia lakukan saat dia bercerita semua hal tentangmu, aku beranggapan bahwa kalian adalah dua orang beruntung yang telah digariskan Tuhan untuk saling mencintai. Aku menyukai kalian berdua, wanita cantik berwajah lembut dan kamu pria manis yang menyukai audio romantis.
Dan, cinta itu hanya masa lalu. Kau hidup dalam kenanganku dan aku tak perlu memaksamu untuk mengendap-endap masuk dalam dunia nyataku. Cinta itu hanya butir-butir salju yang akan mencair saat musim berganti. Ini hanya cinta musiman, yang datang dengan cepat dan berlalu dalam waktu yang tepat.
Perlukah ada rasa rindu jika aku tak lagi mencintaimu? Perlukan ada rasa kuatir jika aku tak lagi membiarkanmu mengendalikan perasaanku? Kamu dengannya dan aku bahagia. Itulah cinta.
with love :)
Dwitasari
”Apa yang terlihat dari luar bukan berarti menunjukan apa yang ada di dalam”
“Mengapa kau mencintaiku?” Dia menatap mataku, sepertinya pertanyaan yang cukup serius.
Aku menyimpulkan senyumku padanya, “Karena kau langka dan berbeda.”
“Aku bukan flora atau fauna. Mengapa kau mencintaiku?” Dia kembali mengulang pertanyaan yang sama, sinyalir bahwa jawabanku tidak seperti yang dia harapkan.
“Karena kau langka dan berbeda.” Jawabku tetap sama, aku mengerlingkan mata.
“Na, mengapa kau mencintaiku?” Pertanyaan yang sama, ternyata jawabanku tidak menghilangkan tanda tanya dalam otaknya. Bahkan dia memanggilku “Na” penggalan dari nama panggilanku Donna. Kemana panggilan “Sayang” yang biasa ia keluarkan dengan mudah dari mulutnya?
“Mengapa aku mencintaimu? Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Aku tak punya alasan logis untuk menjelaskan itu, Sayang” Ucapku lirih sambil membuka kacamatanya, membiarkan pandangannya kabur. Walau saat itu bayanganku tak terlihat jelas, tapi aku percaya bahwa suara tawaku terdengar jelas di telinganya.
***
Dia kekasihku, namanya Salju. Dari namanya, kalian bisa menyimpulkan bahwa dia adalah pria dengan kulit putih, tampan, dengan senyum yang membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Tentu kalian masih membayangkan bahwa dia bagai Prince Charming yang direka Walt Disney untuk menyelamatkan lalu mencintai seorang putri yang cantik tapi tidak bahagia. Okay, kali ini kalian harus bersedih.
Salju bukan seperti yang kalian bayangkan. Dia berkulit sawo matang, tidak tampan, dan senyumnya tidak mencuri perhatian siapapun yang melihatnya. Wujud dari seorang pria biasa berkebangsaan dan berkewarganegaraan Indonesia. Dan yang lebih menonjol lagi adalah tinggi badannya melampaui pria Indonesia lainnya, 196 sentimeter. Titik. Mengapa mulut kalian menganga? Toh, di mataku dia adalah pria yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan yang dia punya, dia tetap dapat melengkapi kekurangan yang kumiliki.
Dan aku, Donna. Kalian mungkin mengira aku adalah mantan finalis majalah remaja yang lebih memamerkan kelebihan tampang dan kulit yang putih bersih. Tapi, sekali lagi kalian salah besar. Aku hanya mahasiswi biasa, yang malas bangun pagi dan benci televisi. Disana mereka hanya menjual mimpi, yang bertampang yang menguasai, yang tidak bertampang hanya boleh sekedar “dadah-dadah” layaknya orang bodoh yang berada di belakang reporter saat melaporkan reportase dari tempat kejadian perkara. Aku tidak cantik, kesan pertama orang melihatku pasti mereka beranggapan bahwa aku tak menarik. Dan kenyataan yang harus ku terima, tinggi badanku 166. 30 sentimeter dibawah Salju.
Saat kami berjalan berdua, saat dia menggenggam tanganku dengan erat, kami merasa ada banyak pasang mata mengawasi. Layaknya dua orang oger, Shrek dan Fiona, dua-duanya buruk rupa, yang membuat mereka luar biasa adalah kekuatan cinta mereka. Aku dan salju berbanding lurus dengan Shrek dan Fiona. Semua mata hanya bisa mengejek kami berdua. Si gigantisme dan si gempal berjalan berdua, saling menggenggam tangan seakan tak ada yang menyoroti aku dan dia. Dia punya keterbatasan, tapi dalam keterbatasan yang dia miliki, dia masih terus berusaha untuk melengkapiku. Secara fisik, kami terlihat rendah. Dari luar, kami memang tak terlihat menarik. Tapi disini, di dalam hatiku dan salju, kami punya sesuatu yang tak dimiliki siapapun yang hanya bisa menjelekan keadaan aku dan dia, cinta.
***
“Jadi, cowok lo yang tinggi itu yah?” Galuh bertanya sambil menunjuk Salju yang sibuk mencari buku di rak perpustakaan. Saat orang lain harus menjinjitkan kakinya, Salju malah membungkukan badannya untuk mencapai buku di rak teratas.
“Iya, kenapa, Luh?” Jawabku tanpa melepaskan pandanganku dari buku yang sejak tadi menempel erat di jemariku.
“Kayak jerapah ya. Tinggi banget.” Dengan senyum yang seakan mempermalukan Salju, Galuh melontarkan komentarnya tentang penampilan fisik Salju.
Aku menatapnya dengan tatapan menantang, “Memang, kadang gue manggil dia Jerapah kok.” Senyum paksaan yang kusimpulkan sambil menatap Galuh. Gadis tercantik di kampusku, hanya pria idiot yang tidak menyukai kecantikan wajahnya. Tapi, sayangnya dia tidak terlalu pintar dalam moral apalagi akademi. Seperti hukum Newton I : Kecantikan berbanding terbalik dengan KEPINTARAN.
“Oh, pantesan. Dia jerapah, lo badaknya.” Tanggapan yang singkat tapi cukup membuatku geram. Aku masih berusaha tak menunjukan amarahku daripada aku mencetak tanganku diwajahnya, lebih baik aku tersenyum kan?
“Gila, lo hebat banget! Salju itu manggil gue dengan sebutan Badak loh! Jerapaaaaaaaaaaaah!”
Salju seketika menghampiriku, “opo, Dak? BADAK!”
“Enggak apa-apa, aku heran deh, Pah. Di perpus kan Acnya banyak banget yah, tapi kok bawaannya gerah gini?”
“Iya nih, Dak. Ada orang yang bawaannya komen pedes mulu sih, jadi gerah. Mbok bercermin dulu to sebelum ngasih cermin ke orang lain. IP 2,1 aja ngegaya banget. Kamu aja, Dak yang Ipnya 3,7 santai wae, enggak ngegaya.” Salju menungkas dengan lebis pedas. Ah, Sayang. Kau benar-benar kekasihku!
Aku melihat wajah Galuh merah padam, dandannya yang tebal terlihat akan segera luntur. Dia memang terlalu HOT (baca: pedas), mencair karena panas yang dia ciptakan sendiri. Aku melengkungkan senyum sinis pada Galuh, menarik tangan Salju dan membiarkan Galuh mematung sendirian. Sayang, aku suka caramu menyelamatkanku!
***
Dan inilah kita, Salju dan Donna. Si gigantisme dan si gempal. Si tinggi dan si pendek. Si genius dan si pintar. Si kacamata dan si tukang ngemil. Si buruk rupa dan si buruk rupa. Kami memang tak pernah terlihat normal dimata orang lain. Kami selalu terlihat aneh dimata orang lain. Kami terkesan dungu dan idiot. Dipojokan, direndahkan, dan terpinggirkan. Salju tak seperti mahasiswa dengan mobil dan gadget meriah hasil harta orangtua mereka. Dan aku bukan mahasiswi jago dandan yang sering bercermin tiap detiknya. Dan kami bangga dengan segala kekurangan yang kami punya, dengan segala keanehan yang tidak dimiliki pasangan lainnya, dengan segala keunikan yang hanya kami miliki dan dengan segala kemahatololan yang pernah kami lakukan. Kami berusaha “menutup telinga” dengan apa yang dikatakan orang, yang tahu hubungan kami ya hanya kami berdua.
Bagiku Salju berarti bahagia. Tingginya memang 30 sentimeter diatasku, bahkan tinggiku hanya dibawah ketiaknya. Tapi, selama rentan waktu aku bersamanya, dia selalu jadi telinga yang baik untuk mendengarkan ceritaku. Dia selalu menjadi pundak terkuat tempat aku bersandar. Dia luar biasa, dia melebihi kapasitas orang-orang yang hanya bisa melihat kekurangannya. Apa yang terlihat dari luar bukan berarti menunjukan apa yang ada di dalam. Itulah prinsip kami. Aku terlihat buruk dari luar tapi indah di dalam, hanya Salju yang tahu. Salju terlihat buruk di luar, tapi bagiku dia adalah salju putih yang menyejukan kala bulan Desember membawa kebahagiaan bagi semua orang. Salju hanya terlihat buruk dari luar, tapi dari dalam, dia begitu indah. Hanya aku yang tahu.
einstein dan newton takkan mampu merumuskan besarnya kekuatan cintaku padamu #CintaAnakIpa
aku ingin mencintaimu dengan sederhana, lebih sederhana dari logika matematika maupun hukum dasar kimia :p #CintaAnakIpa
cintaku padamu sama seperti benda berbahan anorganik yang takkan terurai hingga 100 tahun lamanya :D #CintaAnakIpa
Sekuat apapun benda mempertahankan keseimbangan benda tegarnya, tidak sebanding dengan tegarnya cintaku :) #CintaAnakIpa
Cintaku berkonduksi melalui ruang rindu, sehingga kamu bisa merasakan indahnya dari segala tempat dan arah :) #CintaAnakIpa
archimedes dan newton takkan mengerti ion-ion apa yang menyebabkan aku dan kamu melebur dalam satu cinta :3 #CintaAnakIpa
bayangmu tepat jatuh difokus hatiku. Nyata, tegak, diperbesar :) #CintaAnakIpa
bagai hukum kekekalan energi, cintaku padamu tidak dapat dimusnahkan tidak dapat diciptakan , ada secara tiba tiba :’) #CintaAnakIpa
Cintaku padamu kekal seperti hukum kekekalan momentum :D #CintaAnakIpa
Cintaku tulus seperti energi mekanik, biarpun di atas atau di bawah besarnya selalu sama :)Sigma cintaku + sigma cintamu = sigma kebahagiaan kita :’3 #CintaAnakIpa
Jika kamu hati, maka aku mau jadi empedu yang ada karena hati. aku ada karena kamu ada :D #CintaAnakIpa
Jika kamu medulla oblongata, aku akan jadi jantung yang akan terus berdenyut karenamu :D #CintaAnakIpa
Aku ingin menjagamu seperti mielin menjaga aksonnya :D #CintaAnakIpa
with love :)
dwitasari :D
“Penyakit separah apapun tidak akan pernah membatasi perasaan cinta seseorang”
“Kamu siapa?” Dia menyorotkan pandangan matanya ke arahku.
“Kekasihmu.” Jawabku singkat dengan senyum memikat.
“Denita? Sayang, kamu kok kurusan?” Jawabnya sambil meremas pundakku dan memelukku.
“Bukan, Sayang. Aku Kesha. Denita sudah dipanggil Tuhan lebih dulu, 2 tahun yang lalu.” Ucapku apa adanya dengan senyum terpaksa. Aku hampir menangis. Dia mengulang pertanyaan yang sama untuk yang ke-sembilan kalinya.
“Kesha? Kamu kira aku bodoh? Kamu bukan kekasihku, kekasihku adalah Denita. Dia jauh lebih baik daripada kamu.” Sambil menghempaskan tubuhku, dia duduk dan menjauhiku.
Aku menahan air mataku, “Aku memang tidak lebih baik dari dia, tapi Denita sudah tidak disini dan yang masih hidup adalah aku, cuma yang hidup yang bisa mendampingi orang yang hidup.”
“Berisik! Kamu jangan mengada-ada ya, jujur hal itu menjijikan, wanita tidak punya harga diri! Mengaku kekasihku? Kau sampah!”
“Ya, kau boleh menghinaku, aku sampah dan kau telah terganggu oleh bau busuknya. Aku membawakanmu makanan dan obat, ibumu bilang kalau kau tidak menghabiskan semua yang kubawa, kau akan jatuh pingsan, mimisan. Makan ya, dihabiskan, aku akan menunggumu sampai makanan dan obatnya kau habiskan.” Sambil menahan suara tangisku di tenggorokan, aku menyodorkan makanan dan obatnya, aku menunggunya.
Aku kembali menatap wajahnya, dengan lahap dia menyantap makanannya. Lagi dan lagi, dia tak mengingat namaku dan statusku sebagai kekasihnya. Dia menyadari sorotan mataku yang sejak tadi mengarah padanya, senyumnya yang lugu benar-benar menyadarkanku bahwa semua akan berjalan baik-baik saja, bukan hanya untuk hari ini, tapi kuharap untuk selamanya, aku pasti bertahan.
“Kesha sayang, enggak makan?” Saat mulutnya dipenuhi nasi, dia mengawali percakapan ringannya denganku.
Aku terkejut, ingatannya kembali, senyumku lebar menyambut suaranya, “Makan aja, Sayang. Tadi mama kamu udah masakin aku makan siang kok. Rivastigmine [1] yang aku letakkan disitu jangan lupa diminum ya!”
“Sayang, hari ini kamu cantik banget, Denita kalah cantik deh sama kamu.” Dia mulai mengeluarkan kata-kata gombal yang baru diproses otaknya.
“Terimakasih.” Jawabku singkat, sebenarnya aku tahu bagaimana perasaan dia yang sebenarnya, bahwa aku tak lebih baik dari Denita, mantan kekasihnya. Disatu sisi, penyakit Alzheimer [2] memang menyiksa, disatu sisi, penyakit itulah yang membuat hidupku terkesan luar biasa. Setahun hubungaku dengan dia, setahun juga aku berusaha menyadarkannya bahwa ada aku yang selalu mencintainya.
***
“Jangan dibuka ya penutup matanya.” Aku berbisik ditelinganya sambil menggenggam erat jemarinya.
“Kita mau kemana?” Nada penasaran itu semakin membuatku tak sabar untuk mengajaknya ke tempat ini.
“Follow me! Jangan lepasin tangan aku sampai aku lepasin tangan kamu.”
“Hujan ya? Kok aku kayak ngerasa ada rintik-rintik hujan?” “Lalu, apa yang kau rasakan? Apa yang ingin kau katakan?”
“Sejuk, bau tanah basah, gemerisik merdu rintik-rintik hujan, kekasih, pelangi, dan rindu.”
Aku terharu dengan jawabannya, dia mengingat semua hal yang pernah kita lewati bersama, saat hujan membasahi baju kita, saat geremis menggelitik kecil rambut kita, dan saat gemerisik air hujan beradu merdu dengan suara kendaraan bermotor yang selau takut dengan tetesan air dari awan dengan jumlah yang sangat banyak itu.
“Sekarang, kau boleh membuka penutup matamu.” “Hujan deras! Sejuk!” Dia tersenyum ke arahku dan kembali memalingkan pandangannya ke depan, menikmati hujan.
“Sekarang, kita berada di shelter [3]. Apa yang kau ingat?” Tanyaku singkat dengan bisik kecil ditelinganya.
“Denita. Aku pernah memberinya jaket saat dia kedinginan dan kita berteduh disini.” Tanpa muka berdosa, dia menjawab pertanyaanku dengan santai.
Aku terdiam. Tubuhku mematung. Otakku mulai mencerna jawabannya. Jantungku berdetak dengan hebat. Nafasku terengah-engah. Hatiku bergetar. Hormon adrenalin memaksa darahku untuk mendidih menuju puncak tertinggi dan terpanas.
“Kalau kau mau terus membicarakan Denita! Kalau kau mau terus mengingat dia, tengoklah makamnya! Kau akan sadar bahwa dia telah tiada! Berbicaralah dengan nisannya, katakan kau merindukan dia. Katakan bahwa wanita pilihanmu saat ini tidak sebaik dia. Bersihkan rumput yang tumbuh diatas pusaranya, kau akan sadar bahwa dia telah kembali menjadi tanah. Lalu, kau menangis dengan suaramu, meronta-ronta dengan sisa-sisa teriakanmu yang serak, memanggil namanya tapi dia tidak akan kembali!” Amarahku meledak, membuncah dengan sejuknya hujan yang tak mampu lagi membuatku merasa sejuk. Aku gerah.
“Maksudmu?” Dia malah bertanya dengan wajah yang seakan-akan tak menyakiti siapapun.
“Idiot! Namaku Lavenia Ananta Rikesha. Kau sering memanggilku Kesha atau SAMPAH! Setahun yang lalu kau pernah menyatakan cintamu disini, saat hujan di shelter ini. Dan hari ini, satu tahun hubunganku denganmu bahkan kau tak mengingat apapun, kau malah mengingat seseorang yang sudah tiada! Seseorang yang walau kau merindukannya tapi dia tidak akan kembali! Kapan kau menyadari bahwa setahun ini kau telah memiliki seseorang yang sangat bersabar untukmu hanya karena dia begitu mencintaimu? Kalau kau masih ingin bercinta dengan masa lalumu, maka keputusanku kali ini adalah meninggalkanmu! Aku bukan masa depanmu. Bagiku menyakitan jika aku mengingat hal-hal yang kita lalui bersama tapi kau tak pernah mengingatnya atau bahkan menyimpannya dalam memori otakmu” Bentakku dengan nada tinggi di depan wajahnya. Aku menerobos hujan dan meninggalkannya di shelter sendirian. Dia hanya mematung, menatapku yang meninggalkannya.
***
Seminggu setelah peristiwa itu, aku tak lagi mendengar kabarnya, hanya ibunya yang beberapa kali menelephoneku dan mengatakan bahwa puteranya berkali-kali menanyakan kabarku. Aku hanya meringis. Mana mungkin pria se-bodoh dan se-idot itu masih bisa mengingatku. Paling-paling dia hanya tertegun di depan televisi, memanggil-manggil nama Denita hingga suaranya serak dan habis. Bodoh, untuk apa aku berkorban demi seseorang yang bahkan tak menganggapku ada? Yang bahkan lebih mempercayai masa lalunya daripada masa depannya. Ternyata Alzheimer sangat menakutkan.
Saat aku sedang sibuk menjelek-jelekan dia di dalam otakku, tiba-tiba aku mendengar suara pintu diketuk, bergegas aku membukanya. Kekasihku berdiri diambang pintu, “Eh, idiot. Lo mau nyari Denita? Dia pindah, udah enggak dibumi lagi. Gue mau cukur jenggot dulu. Lo pulang aja!” Tungkas ku ketus sambil mendorong bahunya.
“Denita udah meninggal, 2 tahun yang lalu.” Ucapnya tegas menyergap perhatianku.
“Gue sampah! Lo enggak usah deket-deket sama gue! Nanti lo ikutan busuk!” Dengan nada tinggi, aku bertolak pinggang dan membentaknya. “Kamu kekasihku, satu tahun yang lalu, saat hujan di shelter itu, kau menjawab ya saat aku bertanya maukah kau menjadi kekasihku?” Dia menimpal semua cacianku. Otakku terdesak.
“Gue bukan seperti yang lo……. WOY! Apa-apaan sih! Lepasin tangan gue!” Aku belum menyelesaikan pernyataanku tapi tangannya menggengam tanganku erat. Aku masih tak mengerti alasan dia melakukan hal mengejutkan seperti ini.
“Follow me! Jangan lepasin tangan aku sampai aku lepasin tangan kamu.” Dia berkata padaku dan melirikan matanya, memandangku.
Kala itu, hanya satu kata diotakku yang tidak bisa kujawab dengan logikaku. Angin yang menggelitik manja hanya menertawakan aku yang mau saja dibodohi oleh si idiot ini.
“Udah sampe nih!”
“Tempatnya kok deket rumah aku? Ini tempat sih? Isinya Cuma ilalang doang, bikin kulit gatel aja! Gue mau pulang!” Bentakku kasar di dekat telinganya. Aku muak.
“Kamu enggak inget tempat ini? Kamu lupa? Tempat ini berarti banget buat aku dan seharusnya juga buat kamu.” Dia menatapku dengan tatapannya yang khas.
“Ngg.. masa sih?” Dengan wajah bingung aku menatapnya. “Kamu enggak ingat? Menyakitan jika aku mengingat hal-hal yang kita lalui bersama tapi kau tak pernah mengingatnya atau bahkan menyimpannya dalam memori otakmu. Disini, kamu pernah bilang ke aku, suatu hari nanti aku pasti sembuh. Kamu enggak harus mengingat kenangan kita sendirian tapi aku pun juga akan ikut mengingat kenangan kita. Seminggu ini, ibuku cuma bercerita tentangmu. Tentang usaha terbesarmu hanya untuk membuatku mengerti bahwa aku memiliki seseorang yang menerima penyakitku, tentang pengorbanan besarmu hanya untuk membuatku mengingat banyak hal yang telah kita lalui, dalam jangka waktu berkala kau harus terus-menerus mengulangnya, karena aku pun juga terus-menerus melupakan semua usahamu, semua kenangan kita. Mau berjanji satu hal?” Penjelasannya yang panjang diakhiri dengan pertanyaan yang membuatku penasaran.
“Janji? Kalau tidak berat, aku akan menepatinya.” Jawabku seadanya, aku masih tak percaya dengan hal yang ia lakukan.
“Janji jangan tinggalin aku. Aku bakal sembuh buat kamu.” Bisiknya ditelingaku perlahan, mataku terlalu egois, padahal sejak tadi aku menahan air mataku tapi dengan nakalnya mataku malah menurunkan butir-butir airnya.
“Janji!” Air mata haru tergolek lemas dipipiku, aku mematung. “Jangan nangis dong! Senyum dong! Kalau kamu mau aku cepat sembuh, kamu harus senyum buat aku!”
Aku mengulurkan tanganku ke bahunya, menariknya segera dalam pelukku. Diluar sana, orang lain mengatakan bahwa penyakit bisa membatasi perasaan cinta seseorang. Tapi, bagiku justru penyakitlah yang membuat perasaanku bertambah dan bertumbuh pada seseorang yang mengidap penyakit menakutkan, walau dia berbeda dari pria lainnya, walau kami tak bisa saling jatuh cinta dengan cara yang normal.
footnote:
[1] rivastigmine: obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium.
[2] alzheimer: sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil
[3] shelter: halte bus
with love :)
Dwitasari
“kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan”
Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama! Seorang pria dengan wajah sayu, berhidung mancung, bermata sendu, serta seorang pria dengan pita suara yang dihiasi oleh suara lembut. Dimataku, kau tanpa cela. Dihatiku, kau memiliki peran yang luar biasa.
Mungkin, kau tak akan pernah membaca ini, melihat sekejap matapun tidak mungkin, apalagi membaca hingga paragraf akhir. Mungkin, kau tidak mengetahui usahaku untuk menulis ini, usahaku untuk mengundangmu kembali berotasi diotakku, mengelilingi poros otak tengah, menjalar ke otak kiri, lalu membias ke otak kanan. Tak ada dasar apapun dan tak ada alasan apapun yang menjelaskan mengapa aku harus membiarkan jemariku menari dan kembali menuliskan semua hal tentangmu. Seseorang yang sempat mengendap dalam sel otakku, seseorang yang pernah terlupakan oleh jemariku yang dulu sering menuliskan tentangmu.
Jika aku bercerita bagaimana pertemuan awal kita hingga perpisahan kita, mungkin tulisan itu akan terakum sempurna menjadi sebuah roman, yang di dalamnya terdapat tokoh sentral. Hanya aku dan kamu, bertemu, berkenalan, berteman, bercanda, bergembira, jatuh cinta, indah, dan berpisah. Jadi, aku tidak akan bercerita tentang itu. Tunggu dulu! Bukannya aku melupakan kenangan itu, aku hanya ingin membuat semua paragraf menjadi sangat berisi dan efektif, walaupun sekali lagi mungkin kau tak akan membacanya.
Aku bahkan tidak lagi tahu kabarmu. Dimana tempat tinggalmu? Siapa wanita yang menjadi pilihanmu saat ini? Bagaimana keadaanmu? Tak perlu lagi aku membiarkan air mataku terbujur kaku, menyerah setelah beberapa saat bertahan dipelupuk mata. Aku yang sekarang adalah wanita kuat yang dulu belum kau kenal. Jika kau melihatku saat ini, kau pasti berkata,”Kamu berbeda!” Ungkapmu dengan rambut menyeringai santai, dengan jambul yang menjuntai.
Kau semakin tua. Aku sedang membayangkanmu saat ini, mungkin hidungmu semakin mancung, mungkin bulu matamu semakin lentik, mungkin pipimu semakin memerah ketika panas menyengat hangat pipimu, mungkin kau sibuk dengan kegiatanmu, dan mungkin kau telah melupakanku. Dari jarak sejauh ini, mustahil jika aku bisa lagi menyorot erat bola matamu dan menyerap sinarnya.
Bukankah, kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan? Bukankah, kekuatan cinta pertama jauh lebih kuat daripada cinta-cinta lainnya? Tapi, apa yang kurasakan saat ini, hanya aku yang tahu, hanya aku yang bisa manafsirkan. Kau miliki jalanmu, aku mengikuti jalanku, sekarang bukan dulu, kau dan aku bukan lagi bocah ingusan yang suka permainan.
Jadi, untuk segala kemungkinan yang terjadi, biarlah Tuhan menyimpan kemungkinan itu rapat-rapat dalam sela-sela jemariNYA yang penuh kuasa. Diumurmu yang semakin bertambah ini, semoga Tuhan memberkati semua rencana pembahagiaanmu, semoga kau tetap dicintai oleh sesamamu, dan semoga aku masih tersimpan aman dalam laci lemari otakmu.
Satu hal yang perlu kau ketahui, aku tak pernah mengabaikan kekuatan cinta pertama.
ditulis saat: hidung tersumbat, kegalauan menghambat, nafas tercekat. seorang hipotensi butuh pertolongan pertama tapi dia lebih memilih untuk menulis tentang seseorang yang hidup dimasa lalunya. hebat!
with love :)
Dwitasari
Perpisahan itu selalu hadir disaat kita belum siap kehilangan seseorang. Saat kita masih sangat mencintai seseorang. Dan, saat kita masih membutuhkan orang itu dalam banyak hal. Kenyataan terburuk yang harus kita terima adalah orang yang kita cintai itu akan hilang, untuk sementara atau mungkin selamanya.
Pernahkah terpikir dalam benak kalian? Bahwa perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terencana, yang telah disiapkan oleh Tuhan agar kita bertemu dengan seorang mahluk ciptaanNYA. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Kenyataan terburuk yang harus kita ketahui dari sebuah pertemuan adalah sesuatu yang tak kita duga, bahwa pertemuan sebenarnya adalah kata selamat tinggal yang belum terucapkan. Terkadang, mereka yang memutuskan untuk saling pisah adalah mereka yang masih saling jatuh cinta.
Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka. Saya pernah mengalami perpisahan dengan seseorang atau banyak orang yang saya cintai, kalian pun juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Ketika perpisahan membuat suatu pribadi jatuh di titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi untuk berdiri, hanya ada satu kata yang ingin kita ucapkan kepada dia yang telah pergi yaitu “KEMBALILAH!”
Yang belum pernah terpikirkan dari suatu perpisahan adalah akan ada sebuah pertemuan lagi yang akan menyadarkan kita, bahwa kehilangan adalah tanda kita segera menemukan. Menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan. Bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Berkenalan dengan suatu pribadi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Di luar sana, perpisahan didefinisikan dalam berbagai hal. Ada yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah akhir hidup dan ada juga yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah awal perjumpaan. Bagaimana dengan kalian? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menangis semalaman? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menutup diri dan menutup hati dari orang-orang baru yang berusaha masuk dalam hidup kita?
Bagaimanapun jawaban kalian, ketahuilah perpisahan itu sama seperti aksi reaksi. Terjadi lalu menyebabkan akibat. Perpisahan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat kita lebih dewasa. Percayalah, Tuhan melihat kita dari jarak yang tidak kita ketahui, dalam tanganNYA, DIA telah merancang rencana khusus untuk saya dan anda. DIA itu Maha Adil. Ketika DIA mengambil “emas” yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan “berlian”. “Ketika DIA mengambil seseorang yang kau cintai, maka DIA akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta.”
with love :)
Dwitasari
Mataku sembab, menangisimu
Setiap kali mengingatmu
sama saja mengundang air mata membasahi pipiku
Pertemuan kita yang indah memang tak seindah cerita akhirnya
Aku masih menyimpan barang pemberianmu
menyekap mereka dalam kardus agar aku tak lagi melihatnya
Bahkan aku masih memikirkanmu saat kutahu kau tak lagi memikirkanku
Semudah itu kau datang
semudah itu kau tinggalkan
Semudah itu kau mengendalikan hatiku
semudah itu kau merusak dan mengobrak-abriknya
Jangan tanyakan mengapa hingga saat ini aku masih merindukanmu
Mengapa dalam rentan waktu tanpamu
aku merasa perasaanku mati seketika
Aku tak dapat membedakan mana tangis dan mana tawa
mana amarah dan mana cinta yang membuncah
Dunia semakin terlihat gelap dimataku
Bagaimana aku bisa merasa tersiksa jika kutahu kau bahagia?
Mustahil bagiku
mengosongkan otak kiri dan kanan
kuhingga tak ada lagi kamu yang mengisinya
Sulit bagikusaat harus membunuh masa lalu
masa dimana ada kamu
Hanya ada kamu
Aku bosan ketika bangun pagi hari hingga tidur malamku selalu diisi pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran yang cukup besar. Dimana dia selalu ingin menjadi pemenang, dimana dia selalu ingin menjadi aktor utama. Sementara aku, hanya pemain figuran yang tidak berhak melawan, posisiku hanya seseorang yang pasif yang mencoba mengerti semua perlakuannya walaupun ada banyak gejolak untuk melawan.
Ada saja hal-hal kecil yang dia jadikan sebagai acuan untuk berdebat panjang. Masalah komunikasi, masalah perhatian, masalah waktu, dan masalah-masalah lainnya yang selalu terlihat besar saat ia melebih-lebihkannya. Memangnya aku ini tempat sampah, “tempat” dimana ia menumpahkan segala kekesalan dan amarahnya saat ia merasa lelah dengan dunianya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia, yang juga punya perasaan? Apa dia tahu, bahwa menjadi aku bukanlah hal yang mudah?
Seringkali aku merasa risih dengan semua hal yang ia lakukan padaku. Rasanya sehari seperti sebulan lamanya. Seringkali aku terdiam melihat semua mengalir tanpa persetujuan dan keinginanku. Seringkali aku ingin lepas, tapi aku merasa jeratan itu masih terlalu kuat. Aku lelah menjalani hubungan yang hanya berjalan di tempat, dimana hanya ada satu orang yang berkorban demi satu orang lainnya. Dimana hanya ada aku yang berlelah sendirian hanya untuk menjaga sesuatu yang seharusnya kulepaskan.
Jujur, aku merindukanmu. Merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menelusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu dengan tinggimu yang 196 sentimeter itu. Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya bila tidak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu rasanya jika saat bangun pagi tak ada sapamu di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar takut kehilangan sebagian dari diriku saat aku juga kehilangan kamu.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu, ketika masih ada kamu, ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat ungkapan rindumu masih sering kudengar dari bibir tipismu, saat kehadiranmu bagai aktor utama drama yang kutunggu-tunggu kemunculannya. Aku masih saja sering memperhatikan nomor handphonemu, menimbang-nimbang apakah aku harus mengirim pesan terlebih dahulu atau aku saja yang menunggumu? Ah… tapi kamu terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekedar sms apalagi menanyakan kabarku.
Setelah kuputar ulang lagi rekaman otakku yang berisi tentangmu, aku mencoba untuk kembali mengingat perlakuan lembutmu dan perlakuan kasarnya. Aku mencoba mengingat kesabaranmu saat menghadapiku, aku mencoba mereka-reka kembali ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengintip kembali usaha-usaha yang kau lakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat.
Bayanganmu berputar-putar di otakku, suaramu terdengar menusuk-nusuk telingaku. Aku benar-benar kecanduan kamu, aku benar-benar kecanduan masa lalu. Aku semakin sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuatku merasa berarti dan luar biasa selain kamu. Aku semakin yakin bahwa kamu adalah seseorang yang berusaha memperbaiki kesalahanku agar aku menjadi seseorang yang baru. Kamu menerimaku lalu menjaga perasaanku, dia menerimaku tapi berusaha merusak perasaanku.
Kali ini, aku tak merasakan kantuk sama sekali, rasa kantuk itu tak benar-benar berarti sampai aku bisa menuliskan ini, sampai aku bisa menikmati hadirmu lewat tulisanku. Aku menyesal kenapa semua hal-hal yang indah seringkali tak bisa terulang? Aku frustasi. Aku kebingunangan. Aku butuh hadirmu. Aku butuh kata rindumu. Dimana kamu? Kau tahu? Sejak kemarin aku mencarimu! Hubunganku dengannya diujung tanduk saat ini! Selamatkan aku, bukan selamatkan hubunganku!
Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini
06102011 01:37
aku merindukan suara beratmu.
#15HariMenulisBlog #11 #Hujan
Kami selalu bertemu saat hujan, hanya saat hujan. Ketika gerimis menari perlahan, ketika rintik kecil itu berubah menjadi deras, maka kami saling bertemu, dengan tatapan gerah, dengan senyum merekah. Tentu kami kedinginan saat sibuk berpeluk. Kami juga tidak menentukan waktu untuk bertemu yang jelas saat hujan deras, dia sudah ada disitu, dengan lengannya yang terbuka lebar untuk memelukku. Dan, tanpa kurencanakan pun, saat hujan, aku pasti sudah disitu, menunggu dia menghampiriku dengan pelukan hangatnya, dengan desah lirihnya.
Aku benci akhir-akhir ini hujan selalu datang tak menentu, kadang siang, kadang malam, kadang pagi, kadang senja. Aku meradang, aku dan dia tak punya banyak kesempatan untuk saling memandanga. Lagipula, kenapa aku harus begitu frustasi karena kita tak bisa terlalu sering bertemu lagi? Bukankah aku juga tak pernah tahu namanya? Bukankah aku juga tak tahu bagaimana wajah jelasnya? Bukankah sebenarnya aku tak mengetahui siapa dia? Kenapa aku begitu merindukan pertemuan, walau mungkin dia tidak merindukan sebuah pertemuan? Aku merenung sesaat, kenapa aku begitu terpaku pada fatamorgana?
Akhirnya, hujanpun menjatuhkan rambut mayangnya ke bumi dengan bongkahan rintik-rintik kecil yang menjamu mata telanjang yang menyaksikannya. Aku tersenyum lebar, aku akan segera menemukan dia, malaikat hujan. Dia akan kembali memelukku, dengan kedua lengannya yang hangat. Aku menunggu hujan semakin deras, kulihat dia ada di ujung jalan, kali ini dia tidak menghampiriku segera, sepertinya dia juga tidak mencariku, dengan langkah gontai, aku menghampirinya, aku kedinginan.“Hey! Kenapa tidak langsung menghampiriku?” Tanpa jawaban dan pengungkapan, dia langsung memelukku. Kami saling bisu, malu-malu karena lama tak bertemu. Dia memang tidak pernah berkata sepatah katapun, dia hanya berbicara lewat peluknya, lewat kedua lengannya.“Aku merindukanmu!
Mengapa kau tidak segera menjawab pertanyaanku? Kemana saja kamu?” Suara parauku beradu dengan irama deras hujan, menambah sinyal kekesalan, dalam peluknya, dia masih membisu.“Aku tidak menemukan orang sepertimu dalam dunia nyata.” Ucapku lesu, merintikan hujan baru dari pelupuk mataku, air mata. “Aku juga tak menemukan orang sepertimu dalam dunia fatamorganaku.” Tungkasnya lirih dengan gemeretak giginya. Dia kedinginan.Cukup dengan pelukan, hanya dengan pelukan, kami saling berbicara lewat pelukan.
Sesekali dia mencium keningku, melumat bibirku, lalu kembali memelukku. Kami hanya terdiam, kami hanya membisu, kami memang tak saling tahu, kami bahkan tak pernah tahu mengapa Tuhan merencanakan kami untuk saling bertemu. Yang kutahu, aku selalu menunggu hujan, hanya untuk menemuinya, entah apa yang dia tahu, karena aku pun masih belum bisa membaca pikirannya. Yang kumengerti, kami memang tak selalu bertemu apalagi saling bertatap mata, hanya saat hujan, kami bisa menyatu, aku dan dia menjadi kita dalam satu pelukan yang diciptakan hujan. Saat itu, hanya awan kelabu yang kami lihat. Selalu kelabu pun tak apa-apa, asal dia ada dipelukku, itu saja.
Bagiku, tak penting bagaimana seseorang saling bertemu dan memandang. Tak penting juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk saling berbicara lalu terdiam. Semua aspek dan teori tentang cinta menjadi sangat tidak penting, ketika dia yang ingin kutemui sudah berada di depan mataku. Bahkan, dalam kebisuaan sekalipun, kami bisa saling berbicara dan berkata rindu. Bahkan, hanya dalam pelukan semaya-mayanya sekalipun, kami bisa saling mencintai dan melindungi. Karena kebisuan tak selalu berarti benar-benar bisu, karena satu pelukan tak berarti dia akan melepas lengannya dari bahuku.
Aku suka berbicara dengan hujan. Aku suka merindukan seseorang yang bahkan tak kuketahui wajahnya. Aku mencintai dia yang sulit untuk Kucintai. Nyatanya, aku suka, ada yang salah?
with love :)
Dwitasari
Persepsi setiap orang dari kata “ROMANTIS” selalu berbeda. Tidak semua orang memiliki satu pikiran bahwa romantis adalah ini, bahwa romantis adalah itu. Romantis itu RELATIF :) Di bawah ini ada tempat tempat romantis menurut persepsi saya :) Berminat untuk membaca? Ayo ayo ke bawah ! :D
- Stasiun Kereta
- Teropong Bintang Boscha
- Shelter

- Bukit Bintang

Itulah beberapa tempat yang dalam persepsi saya ROMANTIS :) Intinya, tempat romantis tidak harus tempat yang megah, jauh atau memerlukan banyak biaya. Romantis itu ada disekitar kita, tinggal bagaimana caramu menghidupkan suasana. Romantis itu RELATIF :D
with love :)dwitasari